Tuesday, February 7, 2017

Antara Realita, Harapan, dan Kewajiban

Lagi, aku termenung dan larut dalam lamunanku. Aku tak mau meratapi hidup. Aku tak mau berkeluh kesah. Aku tak mau menyerah seolah meng-Aamiin-kan mereka yang melihatku seperti pecundang. Aku tahan segala rasa dalam hatiku. Aku ingin menjerit, tapi aku tak mampu. Aku ingin marah, tapi harus pada siapa kulampiaskan amarahku? Apa aku harus marah pada orang tuaku? Apa aku harus marah pada adikku? Atau aku harus marah pada mereka yang selalu bertanya tentang hal yang aku tak sukai? Atau aku harus marah pada mereka yang berkomentar ini itu tanpa tahu hidupku? Aku tak bisa melakukannya. Aku hanya bisa marah dalam diam. Dalam simpul senyum palsu. Dalam gelak tawa tanpa beban. Bukan, bukan senyum dan tawa kebahagiaan. Tapi senyum dan tawa yang berusaha tegar dan berharap kebaikan akan datang di waktu yang tepat. Karena aku tahu, jika aku luapkan amarahku, pada akhirnya aku hanya menyakiti diriku sendiri. Aku akan merasakan sakit karena amarahku, kata-kata yang terucap dari lisanku hanya akan melukai hati mereka. Ah, aku lelah. Hati ini terasa tertekan. Aku sesak. Bagaimana rasanya menghirup nafas lega? Bagaimana rasanya tersenyum karena bahagia? Bagaimana rasanya menatap tegak? Bagaimana rasanya melangkah mantap? Aku seolah berjalan terhuyung tanpa arah, menunduk malu atas hidupku yang aku tidak tahu apa alasan pastinya. Banyak ‘mengapa’ yang muncul di benakku. Tapi aku tak mau melanjutkannya karena aku takut mempertanyakan takdir Tuhan yang telah digariskan untukku dan akirnya membuatku berprasangka buruk.

Aku tidak mengerti apa yang terjadi pada hidupku. Semuanya secara tiba-tiba saja menjadi seperti ini. Aku tahu benar banyak yang salah dari imanku. Banyak yang salah dari iman keluargaku. Mungkin kami sudah terlalu lama meninggalkan-Nya. Mungkin kami sudah melangkah menjauhi jalur menuju Dia. Aku ingin kembali, tapi aku tidak mengerti mengapa tubuh ini seperti terpasung. Telah terpasung dalam waktu yang lama. Sekian bulan, tidak. Sekian tahun, ya. Aku terhenti di titik dimana aku tidak bisa kembali atau memulai kebaikan yang baru. Aku seolah dipaksa untuk terus melanjutkan jalur di hadapanku, namun bertentangan dengan nuraniku. Semua riuh kala aku memilih jalan baru ataupun memilih kembali. Semua riuh kala aku hanya berhenti tak bergerak. Mengapa keriuhan ini seolah mengendalikanku? Bukankah aku yang bertanggungjawab terhadap hidupku dan langkahku? Aku terbentur dengan harapan dan keinginan orang tuaku, aku terbentur dengan kekecewaan dan kenyataan adik-adikku, aku terbentur dengan kondisi keluargaku, aku terbentur dengan tuntutan materi terhadap hidupku dan keluargaku, aku terbentur dengan tanggung jawabku kepada Tuhanku, aku terbentur dengan harapan-harapanku. Semua seolah bertentangan, saling berbenturan, jauh dari mendukung dan menguatkan.

Aku seolah melihat kehancuran. Tuhan, rasanya aku ingin mati saja. Melihat dunia yang semakin tidak aku mengerti. Melihat dunia merubah manusia di sekitarku juga manusia yang jauh dari pandangku. Aku takut, jika aku termasuk dari perubahan buruk dunia ini. Aku takut hidup lebih lama hanya akan membuatku menjadi manusia yang semakin buruk dan menjauhi-Mu. Tapi aku pun belum siap mati saat ini. Aku merasa sungguh hina dan jika aku berakhir sekarang, ini hanya akan menjadi akhir hidup yang buruk. Tuhan, berikan aku kesempatan untuk bisa berakhir dengan baik dan benar. Tuhan, beri aku kesempatan untuk bisa melakukan dan menunaikan apa yang saat ini memang harus aku lakukan dan tunaikan. Izinkan aku melakukan sesuatu terlebih dahulu untuk orang tuaku dan adik-adikku, untuk sahabat dan saudaraku, untuk bukti dan saksi atas imanku, untuk pemberat timbangan amalku di Yaumul Mizan, untuk kelayakanku mendapat syafa’at kelak, dan untuk segala apa yang harus aku pertangungjawabkan dunia dan akhiratku. Tuhan, bukakanlah jalanku. Terangilah jalanku. Bebaskan aku dari rasa terpasung ini. Tuntunlah aku dalam jalanku melaluinya. Karena aku tak tahu mana lagi tempat bergantung dan berharap selain pada-Mu. Maafkan aku, karena aku baru menemui-Mu disaat aku terpuruk dan hancur.

Bandung, 7 Februari 2017
Pukul 10:46 AM GMT+7 Jakarta
Syi'ra Syams

Tuesday, January 10, 2017

BERITA BESAR

Berita Besar. Sudah tertulis jelas. Andai kita mau berpikir dan patuh.

Tiba-tiba aku larut dalam lamunan. Memikirkan hal-hal yang terjadi di hidupku, memikirkan hal-hal yang terjadi di sekitarku, memikirkan hal-hal yang terjadi di negaraku, memikirkan hal-hal yang terjadi di dunia kini. Menembus batas pandangan, yang hanya kuketahui melalui berbagai media pemberitaan dan media sosial. Ah, semua sudah gila. Aku tidak mengerti memikirkan segala peristiwa yang saat ini santer menjadi ramai diperbicangkan, diberitakan, dilakukan dan sebagainya. Laporan berita pembunuhan hampir setiap hari hilir mudik di media cetak ataupun elektronik. Dengan cara-cara yang semakin hari semakin keji. Gila. Berjalan di jalanan cemas dan khawatir. Berada di kendaraan umum, cemas dan khawatir. Pulang larut malam, cemas dan khawatir. Memarkir kendaraan di tempat umum atau di luar rumah, cemas dan khawatir. Bertemu seseorang yang baru, secara tiba-tiba disapa, cemas dan khawatir. Cemas, khawatir, curiga, merasa tidak aman, sepertinya selalu menghantui setiap detik hidup kita saat ini. Cemas dan khawatir akan setiap tindakan kriminal, kejahatan, bahkan pembunuhan yang bisa saja terjadi di jalanan, kendaraan umum, di manapun bahkan di dalam rumah kita sendiri pun.

Gaya pergaulan remaja yang semakin gak karuan malang melintang di media sosial, tak kenal malu sudah. Dibilangnya, trend, gaul, kekinian, dan lain sebagainya. Senang mengikuti trend barat sana, baju yang sudah tak layak lagi dikatakan pakaian, yang mungkin hanya membutuhkan kain kurang dari 1 meter untuk membuatnya. Atau mungkin pakaian yang belum selesai produksi karena kehabisan benang dan mungkin mesin jahit yang keburu rusak. Perempuan seksi dilihat, digoda, dan aksi lainnya yang dilakukan laki-laki, dibilang sexual harassment. Seperti bertamu, dihidangkan ya diterima. Lalu siapa yang pusing? Kalau tidak mau digoda ya jangan diberi toh? Minum-minum sampai mabuk, clubbing sampai pagi, seks bebas, masih perawan dibilang culun, cupu, gak gaul, dan sebagainya. Hah, gila.

Korupsi sudah seperti nasi. Makanan pokok sehari-hari. Terjadi pada berbagai lini kehidupan. Dari mulai pasar tradisional sampai pemerintah. Dari mulai 100 rupiah sampai milyaran rupiah. Bahkan di bangku sekolah, tempat pendidikan, korupsi pun kerap terjadi. Sekolah yang berarti tempat mendidik, membentuk, menciptakan cikal bakal generasi yang akan menjadi pemimpin-pemimpin di masa depan. Seperti hal lumrah, aksi contek mencontek, kebocoran soal ujian nasional, dan hal aneh lainnya. Pada akhirnya kita semua akan mati, uang yang banyak hasil korupsi itu untuk apa? Mau dikubur bersama jasad untuk bayar malaikat di alam kubur supaya gak menyiksamu? Atau sogok iblis-iblis di neraka supaya berdusta kalau dulu sebenarnya kamu gak korupsi? Lalu jabatan yang tinggi dan nama yang terkenal itu untuk apa? Mau digunakan untuk membuat malaikat di alam kubur tunduk dan takut? Nilai yang tinggi itu untuk apa? Kamu pikir nilai itu bisa meloloskan kamu ke syurga?

Berbicara Islam, dibilang mengandung sara’ atau bahkan diduga Islam radikal atau teroris. Menurutku, suatu kewajaran, jika orang Islam lebih mempelajari Islam sebagai keyakinannya dan menyandarkan apapun yang terjadi di hidupnya pada Islam. Suatu kewajaran jika orang Islam menanggapi suatu permasalahan berdasarkan aturan Islam. Lah wong, memang Islam keyakinannya. Ya masa gak boleh. Justru menjadi aneh, ketika yang ngakunya orang Islam tapi perkataannya, perilakunya, tidak menunjukkan tuntunan Islam, tidak menyandarkannya pada aturan Islam. Menyampaikan opini, belum apa-apa sudah dibilang mencemarkan nama baik, mengundang kebencian, dan lain sebagainya. Ya memang kemajuan teknologi dan khususnya semakin berkembangnya media sosial, akan membuat banyak orang dengan mudah berkomentar dan menyampaikan opininya. Bahkan tanpa menunjukkan identitas aslinya. Baik opini itu baik, benar, buruk ataupun salah. Kalau semua yang berkomentar negatif harus diurus Pak Polisi, bisa-bisa semua masyarakat di negeriku dapat giliran. Ya menurutku, siapapun yang bersangkutan tersebut, kalau memang merasa berita yang ada tidak benar, yasudah tidak perlu digubris, tinggal tunjukkan dengan sikap dan perilaku yang baik. Bukankah sebaik-baik teladan adalah dengan mencontohkan? Berarti, aksi lebih bermakna dari pada lisan. Selain itu, doakan saja semoga masyarakat yang tersampaikan beritanya, Allah bukakan pikirannya supaya bisa melihat mana yang benar dan yang salah. Kalau memang berita yang beredar salah, ya berarti posisimu adalah sebagai yang terdzalimi. Berdoalah yang baik-baik. Bukankah doa seorang yang terdzalimi itu makbul? Dan doa adalah senjata rahasia yang luar biasa. Tapi kalau memang jelas salah, ya sudah wajar mengaku salah. Toh, semua yang kita lakukan nantinya akan dapat balasan. Mau yang baik ataupun yang buruk. Mau yang benar ataupun yang salah. Kalau masih khawatir, tandanya tidak yakin sama Allah dan hari akhir.

Belum lagi hal-hal di ranah pemerintahan, politik, ekonomi, dan masih banyak lagi. Bisa gila aku kalau kulanjutkan lamunanku. Kusegarkan pikiranku. Kuminum segelas air yang berada di depanku, kulihat sesuatu yang terdiri dari lembaran-lembaran kertas, tidak begitu tebal dan tidak begitu besar di meja kerjaku. Aku hampiri dan duduk sejenak, mengambil sesuatu tersebut. Hmm lebih baik aku mengulang hafalanku. Kubuka sesuatu tersebut dari sisi kirinya yang sekitar 1/10 dari total tebalnya. Aku berhenti di suatu lembar. Ada 2 bagian pada lembar itu. Katakan saja kolom kanan dan kiri. Aku membaca kolom kanannya, mengulang hafalanku beberapa kali. Aku beralih ke kolom kiri, kubaca seksama apa yang tertera di kolom tersebut. Hmm seolah melanjutkan lamunanku sebelumnya. Ah, andai manusia-manusia ‘gila’ itu tau. Apa mereka masih berani melakukan apa yang dilakukannya saat ini?

Berita Besar. Ya, berita besar. Betapa Allah begitu mengistimewakan manusia sebagai makhluknya. Allah ciptakan kita. Allah beri pula kita panduan untuk hidup. Allah beri berita-berita besar berupa ni’mat-ni’mat, peringatan, kabar gembira, dan ganjaran. Bahkan Allah beritahukan sejak dini, mereka yang tidak mengindahkan peringatan Allah akan menyesalinya kelak. Bukankah penyesalan akan selalu datang terlambat? Lalu ketika kita sudah diwanti-wanti sejak awal, mengapa tidak kita hindari saja? Penyesalan akan selalu bersanding dengan kesakitan. Kesakitan yang kekal pasti tidak akan mampu kita tanggung.

Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?
Tentang berita yang besar (hari berbangkit),
yang dalam hal itu mereka berselisih.
Tidak! Kelak mereka akan mengetahui,
sekali lagi tidak! Kelak mereka akan mengetahui.
Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan,
Dan gunung-gunung sebagai pasak?
Dan Kami menciptakan kamu berpasang-pasangan,
dan Kami menjadikan tidurmu untuk istirahat,
dan Kami menjadikan malam sebagai pakaian,
dan Kami menjadikan siang sebagai penghidupan,
dan Kami membangun di atas kamu tujuh (langit) yang kokoh,
dan Kami menjadikan pelita yang terang benderang (matahari),
dan kami turunkan dari awan, air hujan yang tercurah dengan hebatnya,
untuk Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tanam-tanaman,
dan kebun-kebun yang rindang.
Sungguh, hari keputusan adalah suatu waktu yang telah ditetapkan,
(yaitu) pada hari (ketika) sangkakala ditiup, lalu kamu datang berbondong-bondong,
dan langit pun di bukalah, maka terdapatlah beberapa pintu,
dan gunung-gunung pun dijalankan sehingga menjadi fatamorgana.
Sungguh, (neraka) Jahanam itu (sebagai) tempat mengintai (bagi penjaga yang mengawasi isi neraka),
menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas.
Mereka tinggal di sana dalam masa yang lama,
mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman,
selain air yang mendidih dan nanah,
sebagai pembalasan yang setimpal.
Sesungguhnya dahulu mereka tidak pernah mengharapkan perhitungan,
dan mereka benar-benar mendustakan ayat-ayat Kami.
Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab (buku catatan amalan manusia).
Maka karena itu rasakanlah! Maka tidak ada yang akan Kami tambahkan kepadamu selain azab.
Sungguh, orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan,
(yaitu) kebun-kebun dan buah anggur,
dan gadis-gadis remaja yang sebaya,
dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman).
Di sana mereka tidak mendengar percakapan yang sia-sia maupun (perkataan) dusta.
Sebagai balasan dan pemberian yang cukup banyak dari Tuhanmu,
Tuhan (Yang memelihara) langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Yang Maha Pemurah, mereka tidak dapat berbicara dengan Dia.
Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan dia hanya mengatakan yang benar.
Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barang siapa menghendaki, niscaya dia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.
Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (orang kafir) azab yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya seandainya aku dahulu adalah tanah.”

[QS. An-Naba’ (Berita Besar) : 1-40]

Saat ini, masing-masing dari kita berada di posisi mana? Bertakwa ataukah kafir? Ketika Allah sudah menjanjikan kesudahan bagi setiap golongan tersebut, maka itu adalah keniscayaan yang akan terjadi. Ingatlah! Allah sudah menjamin kebenaran Al-Qur’an dalam QS. Al-Baqarah ayat 2, “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”.

Kita adalah manusia akhir zaman. Tidak ada satupun dari kita yang mengetahui kapan akhir kita masing-masing. Karena itu, sebelum matahari terbit dari barat, ah, tidak. Bahkan kita tidak pernah tahu apakah kita akan sampai di akhir kehidupan dunia ini atau tidak. Jadi, sebelum akhir waktu kita tiba dan mumpung saat ini masih memiliki kesempatan, kembalilah!


Bandung, 10 Januari 2017
Pukul 9:09 PM GMT+7 Jakarta

- Syi’ra Sun . AHM -

Saturday, January 7, 2017

‘GENERASI MALU’

Jadilah ‘Generasi Muda yang Punya Malu’ bukan ‘Generasi Muda yang Memalukan’

Secara tiba-tiba terlintas sebersit pikiran kala aku meminta bantuan salah seorang adikku. Hanya menyebar info saja, kebetulan seorang teman memintaku membantunya menyebarkan poster promosi online untuk usaha yang baru dibangunnya. Saat itu aku mengiyakan, namun aku tersadar ketika akan mem-forward-nya. “Ah, ya. Aku telah menghilang dari hiruk pikuk media sosial beberapa waktu ini. Aneh rasanya tiba-tiba muncul lalu promosi. Siapa pula yang akan melirik.” Pikirku kala itu. Aku ingat, adik bungsuku memiliki followers instagram, media sosial yang masih gandrung saat ini, yang lumayan jauh lebih banyak dibanding aku. Langsung saja aku memintanya untuk membantuku, cukup posting satu kali saja di instagramnya. Tebak respon dia! Sebenarnya aku sudah tau dia akan menolaknya. Alasannya? Mudah saja. Malu. Satu kata itu membuat khayalku jauh terbang. Malunya dia karena merasa, “Ganteng-ganteng begini, disuruh berjualan.” Hmm ternyata bukan sekali ini, perkara kondisi generasi muda saat ini mengisi ruang pikiranku. Ya, ‘Generasi Malu’. Bukan, bukan sekedar karena adikku yang menolak permintaanku yang ini. Jika soal aku memintanya membantuku menawarkan atau ikut menjualkan produk usahaku, itu sudah selalu ditolaknya. Saat ini aku belum menjadi pengusaha, tapi hopefully di kemudian hari aku bisa benar-benar menjadi seorang pengusaha. Aamiin.

Kembali lagi pada ‘Generasi Malu’, aku melihat adikku sebagai salah satu contoh anak muda generasi masa kini. Flashback ke masaku, aku baru menyentuh komputer semasa SMP. Aku baru punya handphone ketika menginjak SMA. Aku baru punya e-mail pun semasa SMA. Media sosial pertama yang aku punya adalah Facebook. Itu pun dibuatkan temanku. Sejak SMP, saat teman-teman sekolahku sudah mulai bermain Friendster dan YM, aku sudah dikenal orang yang tidak tertarik dengan dunia media sosial. “Untuk apa mencari teman semu dan mempublikasikan aktivitasmu sehari-sehari?” Kurang lebih seperti itu yang kupikirkan saat SMP dulu. Seiring aku bertambah dewasa, teknologi pun semakin modern. Tentunya, perkembangan anak-anak pun jadi mengikuti zaman. Peralihan permainan yang awalnya dilakukan bersama teman-teman dengan olah fisik dan lain sebagainya berganti menjadi permainan jempol dan beberapa jari saja yang dimainkan dan hanya dari sebuah layar handphone, tab, PC, laptop dan beragam jenis perangkat keras canggih lainnya. Ya, memang masih bermain bersama teman. Tapi hanya teman yang bertemu di arena bermain game mereka. Umur pertemanan yang singkat. Tidak ada keakraban yang terjalin seperti anak-anak zamanku dan sebelumku. Karena kurangnya olah fisik, juga menimbulkan banyak penyakit di usia dini. Ini hanya sekilas efek negatif dari semakin berkembangnya teknologi. Tentu ada efek positifnya yang juga banyak dirasakan. Tapi bukan berarti efek negatif ini di kesampingkan. Karena nyatanya efek negatif ini berdampak sangat signifikan. Bukan begitu? Lihatlah di sekitar kita. Bukan hanya dengan mata tapi dengan kerendahan hati dan keluasan pikiran. Maka kamu akan melihatnya.

Lalu apa yang dimaksud dengan ‘Generasi Malu’? Mari kita cermati. Apa saja aktivitas generasi muda saat ini kala berselancar di dunia maya? Kita sempitkan saja media sosial. Dapat dikatakan ada sekitar 80% dari aktivitas generasi muda di media sosial di antaranya mencakup posting mengenai keseharian kegiatannya, menulis tentang kondisi hatinya: entah itu mendapatkan pacar baru, putus, balikan dengan mantan, ketemu mantan, ditinggal nikah mantan, senang mendapat hadiah, senang mendapat kejutan, haru biru suasana hati, dan hal sejenis lainnya, makanan dan minuman hari ini, pakaian yang dikenakannya hari ini, pergi kemana saja dia hari ini, dan hal lain yang terjadi di kehidupannya bahkan hal-hal yang bisa disebut intim. Aku berpikir, “Apa mereka merasa baik-baik saja ketika batas imajiner privasinya sudah hilang? Apa mereka tidak khawatir, jika ada orang yang berniat jahat di luar sana memantau aktivitas media sosial mereka sehingga akan dengan mudahnya melancarkan aksi kejahatannya karena tahu lokasi keberadaan dan kondisi kita? Apa mereka merasa penting untuk mengetahui dan diketahui keberadaannya di media sosial? Apa mereka tidak merasa malu dengan mengunggah setiap hal yang terjadi di hidupnya? Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang muncul dibenakku.”

Hal yang dulu tabu sekarang menjadi biasa saja. Hal yang dulu biasa saja atau bahkan bagus bisa menjadi tabu dan lebih buruknya lagi bisa menjadi bahan gunjingan, cibiran, serta hal buruk lainnya. Mengapa sekarang banyak hal yang terbolak-balik? Ketika mengunggah foto selfie-nya yang selayar handphone bahkan kalau kamu akses di PC menjadi sebesar monitor, tidak malu. Diminta berjualan online, malu. Padahal mungkin saja memperlihatkan bagian yang tidak kamu inginkan, misalnya saja kotoran lubang hidungmu atau matamu. Bisa juga jerawatmu atau hal kurang nyaman dipandang lainnya. Walaupun saat ini kekurangan-kekurangan diri bisa dimanipulasi dengan aplikasi. Tapi bukankah itu pembohongan? Bukan teman media sosialmu saja yang terbohongi, lebih utamanya adalah kamu membohongi dirimu sendiri. Kepercayaan diri menurun, selalu merasa kurang atau mungkin sebaliknya, merasa diri lebih. Ini akan menjadi dampak berkepanjangan, tidak hanya berhenti sampai sekedar mengunggah foto diri dan aktivitas keseharian di media sosial. Aku tidak menjadikan adikku standar generasi muda saat ini. Memang saat ini banyak generasi muda yang sudah menangkap dan memanfaatkan sisi positif dari semakin berkembangnya dan digandrunginya media sosial, di antaranya menjadikan media sosial sebagai media bisnis online. Tentu, bagi mereka yang memanfaatkannya, menjadi mandiri finansial lebih dini. Tapi masih perlu dilihat kembali bisnis online seperti apa yang dilakukannya? Hal ini akan dilanjutkan secara terpisah di tulisan lainnya.

Ya, mengapa saat ini generasi muda kita menjadi aneh? Diajak sholat malas, tapi diajak dugem semangat. Menyempatkan waktu 10 menit untuk sholat terasa berat, tapi mengejar diskon yang bahkan midnight rela-rela saja. Diajak ta’lim dianggap ngga gaul, ragu, berat hati, sok alim, tapi diajak miras senang saja. Posting lagi di masjid, ditambahkan caption atau di komentari sedang taubat yang sembari diiringi candaan. Posting lagi hang out merasa keren dan yang komentar pun antusias bertanya dimana lokasinya. Mau makan, update dulu. Mau olah raga, update dulu. Mau sekolah, kuliah, atau kerja update dulu. Lagi mendengarkan lagu apa, update dulu. Aku hanya berpikir, “Apa semua orang harus diberi tahu apa yang sedang dan mau aku, kamu, kita dan kalian lakukan?”.

Hal aneh lainnya, mengunggah foto bermesraan dengan pacar, yang jelas-jelas belum memiliki hak sama sekali untuk menyentuhmu, bahkan melihat dan membayangkan wajahnya dibenak pun, kamu, kalian tidak punya hak untuk itu, merasa biasa saja, tidak ada rasa malu. Bagaimana respon dari banyak generasi muda lainnya? Banyak dari mereka ingin menirunya dan mengatakan ‘relationship goals’. Menurutku ini bukan lagi hal aneh, melainkan hal yang benar-benar gila. Padahal aku, kamu, kita dan kalian diperintahkan untuk menjaga kemaluan, ini bukan sekedar konotasi dari sesuatu tetapi seluruh hal yang mencakup malu. Yang perempuan diajak berjilbab dijawabnya belum dapat hidayah atau belum siap. Yang sudah berjilbab, ingin tetap trendi, tidak kalah dengan yang tidak berjilbab. Ditatalah kerudung itu menjadi menyerupai rambut yang tergerai, sanggulan, cepolan, dililit di leher yang membuatku khawatir jika terlalu kencang bisa tercekik, dan aneka gaya lainnya. Banyak pula yang tetap ingin tubuhnya terlihat ramping sehingga model bajunya membentuk lekuk tubuhnya. Tertutup sih memang tertutup. Tapi apa perbedaannya dengan tidak menggunakan pakaian kalau pakaian yang dikenakan melekat dan membentuk lekuk tubuh apalagi menerawang.

Tidak tahu atau lupa esensi dari berjilbab itu apa? Kini seolah jilbab hanya menjadi fashion trends belaka. Dahulu banyak yang sangat berat memutuskan untuk berjilbab. Salah satu alasannya terlihat tua dan tidak fashionable. Tapi sekarang banyak anak muda yang sudah memutuskan berjilbab, tidak dipungkiri di antaranya ada alasan yang katanya terlihat lebih cantik dan sekarang jilbab sudah tidak terkesan kuno lagi. Zaman ibu, nenek, uyut dan uyut dari uyut-uyutnya kita, berjuang untuk bisa menggunakan jilbab. Jilbab menjadi identitas diri seorang muslimah yang kukuh terhadap ke-Islam-annya. Tapi sekarang, tidak ada kesulitan bagi seorang perempuan yang mengaku dirinya muslim, untuk berjilbab. Tapi tentu perlu disyukuri, alhamdulillah sekarang sudah banyak yang mulai mau menutupi auratnya dan mau belajar patuh terhadap Allah. Semoga aku, kamu, kita dan kalian senantiasa memperbaiki diri, istiqomah dan Allah izinkan untuk berada di jalan yang Allah ridhoi. Aamiin. Perbincangan tentang jilbab akan kita lanjutkan pada tulisan lain.

Ya, hal-hal yang dijadikan alasan tadi, itu semua hanya excuses yang dibuat diri sadar ataupun tidak sadar. Karena hidayah dan kesiapan adalah hal yang harus dipicu secara sadar oleh setiap individu itu sendiri. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini telah Allah bekali berbagai potensi diri, salah satunya akal, yang menjadi salah satu keistimewaan manusia dari makhluk Allah lainnya.  Akal ini bukan sekedar mengartikan kewarasan seseorang. Jadi, kalau aku, kamu, kita dan kalian sudah Allah berikan akal, ya DIGUNAKAN sehingga hidayah itu Allah izinkan untuk aku, kamu, kita dan kalian. Masih belum menemukan alasan yang kuat? Sadar! Allah sudah membekali manusia dengan paket super lengkap mengalahkan paket komplitnya nasi timbel. Allah sudah beri potensi, Allah beri Al-Quran, ditambah lagi Rasulullah dan tanda-tanda kekuasaan Allah yang tersebar disetiap aku, kamu, kita dan kalian melangkah 1 mm saja. Kalau belum menemukan alasan, sangat mudah ditebak. Berarti kamu, kalian tidak membaca Al-Quran apalagi menjadikannya pedoman hidup. Muslim bukan kamu, kalian? Silahkan jawab masing-masing. Ini baru perkara jilbab. Belum perkara lain yang masih banyak lagi.

Aku merasa generasi muda saat ini semakin pintar secara keilmuan, tapi tidak beriringan dengan keimanan yang semakin kuat pula. Malu sangat erat kaitannya dengan iman. Orang yang beriman harusnya punya malu. Mungkin salah satu resolusi yang menjadi penting di Tahun 2017 ini bagi generasi muda adalah menyambungkan urat-urat malu yang sudah merenggang atau bahkan terputus itu. Caranya? Sudah jelas bukan? PERKUAT IMAN! Orang yang beriman ketika punya masalah, bukan mengunggah masalahnya di media sosial, melainkan menyerahkan segalanya kepada Allah, memohon kekuatan untuk menghadapi dan meminta ditunjuki solusi yang terbaik. Buka, baca dan hayati juga Al-Quran-nya. Jangan hanya diselip di rak bukumu apalagi sampai di simpan di bawah tempat tidurmu. Semua masalah di hidupmu datang atas seizin Allah untuk menguji imanmu, maka kembalikan semua pada Allah karena yang bisa mengambil masalah tersebut darimu, ya pasti yang memberinya. Kalau laptopmu rusak, kamu bawa ke tukang sol sepatu, itu namanya tersesat. Sama dengan kondisimu, kalau kamu punya masalah hidup, kamu curhatnya di halaman media sosialmu, itu juga namanya tersesat. Bukan hanya itu, kamu juga mengumbar aibmu sendiri. Kalau aib, ya pasti harus malu. Kalau kamu orang beriman, maka kamu akan tahu kapan dan untuk hal seperti apa kamu harus merasa malu. Jadilah ‘Generasi Muda yang Punya Malu’ bukan ‘Generasi Muda yang Memalukan’.


Dicukupkan dulu tulisan kali ini. Jika di kemudian hari ada pengembangan tulisan, akan diedit pada tulisan ini langsung.


Bandung, 7 Januari 2017
Pukul 2:53 AM GMT+7 Jakarta
-Syi’ra.AHM-

Wednesday, December 28, 2016

MINDSET

Setiap manusia telah Allah bekali potensi salah satunya akal. Wajar jika setiap manusia memiliki cara berpikirnya masing-masing. Karena itulah, pertentangan menjadi hal yang lumrah terjadi. Tapi manusia hidup dengan takdirnya yang tak bisa lepas dari manusia lainnya. Menjadi keharusan untuk mencari jembatan yang akan mempersatukan manusia satu dengan lainnya. Lalu jembatan seperti apa? Jembatan akidah dan akhlaq. Akhlaq ini meliputi empati, rendah hati, saling menghargai, berbaik sangka, kepercayaan, sikap positif, dan hubungan kemanusiaan lainnya. Jembatan ini pula lah yang akan menjadi sarana transportasi pemikiran manusia satu dengan manusia lainnya. Tentunya kedua sisi jembatan harus terbuka. Jika salah satunya tertutup, maka akan sama saja.

Hai! Aku Syi’ra. Aku mungkin sedikit berbeda dari orang kebanyakan. Cara berpikirku seringkali sulit dipahami atau diterima orang pada umumnya. Mengapa? Apa ada yang salah dengan syaraf di otakku? Apa ada kelainan tertentu yang terjadi padaku? Apa aku menderita gangguan mental? Jawaban untuk semua itu alhamdulillah, tidak. Aku terlahir dalam kondisi sehat jiwa, raga, mental dan sebagainya begitu pun hingga hari ini. Lalu apa maksudnya?

Jika aku dihadapkan pada suatu permasalahan, aku akan melihat dari sisi A, B, C tergantung dari permasalahan tersebut melibatkan berapa pihak. Aku akan membaca ruang-ruang pandang mana yang didiami pihak-pihak tersebut sehingga aku dapat mengetahui cara berpikir pihak A, B, C dan seterusnya. Selanjutnya untuk menentukan benar dan salah suatu permasalahan, harus ada standar benar dan salah yang baku, jelas, yang tidak bisa digugat oleh pihak-pihak tersebut. Setelah itu tentu yang harus dimenangkan adalah yang benar sekalipun itu terlihat menyakitkan atau terlihat tidak baik untuk saat itu. Jika permasalahan tersebut membutuhkan solusi, maka perlu ada goal yang jelas dari masalah tersebut dan baiknya berpengaruh dalam jangka panjang. Jika semua sudah menjadi nyata, bukankah solusinya bisa didapatkan?

Paragraf di atas terlihat memusingkan, aku akan berikan contohnya. Di waktu yang lalu, aku dihadapkan pada masalah seorang teman, sebut saja ‘Keripik’, dia lulus percobaan dan terancam drop out (DO). Mengapa keripik? Hanya tiba-tiba terlintas saja, mungkin aku lapar, tidak ada maksud dibaliknya. Sebagai teman yang solid, ketua angkatanku dan teman-temanku menemui dosen terkait untuk melakukan negosiasi dan meminta kesempatan perbaikan. Temanku, Keripik ini, sudah beberapa semester kurang baik. Kurang baik dari segi apa? Kehadiran di kelas, pengerjaan tugas dan pengumpulannya, semangat kuliahnya yang menurun, dan lainnya sehingga yang sebelumnya indeks prestasinya baik-baik saja, bagus, menjadi menurun. Temanku ini termasuk yang sangat tertutup tentang pribadinya. Saat masa ujian selesai, biasanya kami sebagai mahasiswa, tetap rutin ke kampus untuk memantau nilai kami masing-masing. Saat itu, temanku Keripik yang bukan orang asli kota dimana kami kuliah, langsung terbang kembali ke kampung halamannya begitu masa ujian selesai. Dosenku merasa tidak ada i’tikad baik dari temanku Keripik ini untuk menghadap dan sebagainya. Justru ketua angkatanku dan temanku yang lainlah yang menemui dosen tersebut dan Keripik tidak mau kembali ke kota kami kuliah, selanjutnya sebut saja ‘Kota Bakso’. Anggap saja kali ini kita ada di dunia makanan. Pemahamanku terhadap Keripik, alasannya karena jarak yang cukup jauh dan biaya yang lumayan.

Singkat cerita, hasil negosiasi ketua angkatanku dan teman-temanku yang lainnya, dapatlah Keripik keringanan. Ada satu mata kuliah dimana dosen terkait berkenan untuk Keripik melakukan ujian ulang atau perbaikan dengan syarat Keripik mau ke Kota Bakso. Ringkasnya, dilakukan negosiasi lagi hingga ujian bisa dilakukan online. Teman-temanku berstrategi untuk membantu Keripik saat ujian. Jadi, Keripik akan terhubung 2 jalur. Pertama ujian online, di waktu bersamaan, di jalur lain ada teman-teman yang siap bantu Keripik untuk mengerjakan soal ujian yang Keripik rasa tidak bisa. Waktu yang ditentukan untuk ujian masih ada sekitar seminggu lagi. Aku yang tidak setuju dengan kesepakatan ini bersuara yang intinya menyatakan aku tidak setuju, jika kita peduli dengan Keripik, yang harus kita bantu adalah menguatkan mental Keripik (perlu diketahui, jurusan kami merupakan jurusan yang cukup sulit, saya tidak akan sebutkan), bantu bukan saat ujian tapi selama waktu seminggu yang ada ini, kita bantu Keripik untuk mempersiapkan ujian. Materi mana yang belum dipahami, kita bantu belajarnya hingga ke cara menyelesaikan soal-soalnya. Karena dunia yang sebenarnya harus dihadapi adalah ketika sudah lulus nanti. Dunia kerja, dimana teman-teman yang sepeduli saat ini belum tentu ada. Kita harus bisa bertanggung jawab sendiri terhadap gelar yang nanti kita sandang. Kita harus punya mental yang kuat untuk menghadapi tantangan yang jauh lebih besar di depan. Lebih jauhnya lagi, bagaimanapun, itu tindakan curang dan tidak benar. Selalu ada ganjaran atas apa yang kita lakukan, baik ataupun buruk, benar ataupun salah. Kelak, di peradilan kita, yaitu setelah tak lagi di dunia ini, kecurangan ini akan berkontribusi terhadap timbangan amalan kita. Jika kita bisa tidak melakukan dosa, kenapa kita melakukannya? Tidak ada manusia yang sanggup menahan kejamnya siksa kubur dan panasnya api neraka.

Saat itu, belum selesai penjelasanku, teman-teman sudah bubar jalan pergi meninggalkanku. Hari berikutnya tidak ada dari mereka yang mau kuajak bicara, aku diabaikan. Awalnya aku tidak mengerti mengapa aku seolah dianggap tidak ada hingga aku tahu alasannya. Mereka berpikir bahwa aku tidak peduli dengan teman. Bukan, mereka salah memahami maksudku. Apa dari uraian pemikiranku di atas, ada rasa tidak peduliku pada Keripik dan teman-temanku yang lainnya? Dalam kasus ini, goal-nya jelas membantu Keripik. Solusinya? Sudah aku uraikan di atas sesuai dengan cara berpikirku yang menurutku terbaik untuk jangka pendek dan jangka panjang.
Kurang lebih begitulah salah satu contoh uraian tentang cara berpikirku yang seringkali tampak kejam dan tidak peduli, tapi sungguh aku tidak berniat seperti itu dan justru yang kupikirkan adalah terbaik untuk semua. Bagaimana menurut kalian?

Bandung, 25 Desember 2016
Pukul 2:52 AM GMT+7 Jakarta

-Syi’ra.AHM-